Sebelum membahas bagaimana pencucian uang terjadi, sebenarnya apa arti pencucian uang? Pencucian uang adalah upaya menyamarkan atau menyembunyikan asal-usul harta yang berasal dari tindak pidana agar terlihat seolah-olah berasal dari aktivitas yang sah.
Di Indonesia, pencucian uang perlu diwaspadai karena prosesnya dapat melibatkan berbagai transaksi dan aktivitas yang membuat asal-usul harta semakin sulit ditelusuri. Untuk memahami bagaimana hal tersebut terjadi, penting untuk melihat tahapan pencucian uang.
3 Tahapan Pencucian Uang
Pencucian uang umumnya melalui tiga tahapan: memasukkan harta ke dalam sistem keuangan, menyamarkan asal-usulnya, lalu menggunakannya seolah-olah berasal dari sumber yang sah.
Placement → Layering → Integration
Masukkan → Samarkan → Gunakan
1. Placement (Penempatan)
Placement adalah tahap awal ketika uang hasil tindak pidana mulai dimasukkan ke dalam sistem keuangan. Di tahap ini, pelaku berupaya menempatkan uang tersebut ke berbagai bentuk transaksi atau aset sehingga tidak lagi sepenuhnya berada dalam bentuk uang tunai.
Salah satu caranya melalui mingling, yaitu mencampurkan uang hasil tindak pidana dengan dana yang berasal dari aktivitas legal, misalnya melalui bisnis yang memiliki banyak transaksi.
2. Layering (Pelapisan)
Tahap berikutnya adalah layering, yaitu upaya pelaku untuk melakukan berbagai transaksi agar asal-usul uang semakin sulit ditelusuri. Wujudnya dapat berupa transfer melalui berbagai lembaga keuangan, transaksi lintas negara, penukaran mata uang, perpindahan dana antar rekening, hingga pembelian aset bernilai tinggi.
Pelaku juga dapat menggunakan shell company atau perusahaan cangkang, yaitu perusahaan yang tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit aktivitas bisnis nyata, sebagai bagian dari rangkaian transaksi untuk menyamarkan aliran dana.
3. Integration (Integrasi)
Tahap terakhir adalah integration, yaitu ketika uang yang sudah melalui proses sebelumnya kembali digunakan oleh pelaku seolah-olah berasal dari sumber yang legal.
Dana tersebut dapat digunakan untuk investasi bisnis, membeli properti, kendaraan, atau menjalankan aktivitas usaha lainnya. Dengan begitu, uang tersebut terlihat seperti bagian dari aktivitas yang sah.
Ciri – Ciri Pencucian Uang
Bagaimana kita bisa tahu kalau suatu aktivitas mengarah pada tahapan pencucian uang? Ciri-cirinya tidak selalu terlihat dari satu transaksi, tetapi risikonya dapat terlihat dari ketidaksesuaian antara profil nasabah, sumber dana, struktur kepemilikan, hingga pola transaksinya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Profil nasabah tidak sesuai dengan aktivitasnya
Kenali siapa nasabahnya, apa pekerjaannya atau kegiatan usahanya, serta seperti apa aktivitas keuangannya. Risiko dapat muncul ketika aktivitas atau nilai transaksi tidak sesuai dengan profil dan kondisi nasabah
2. Informasi dan sumber dana tidak jelas
Identitas, kegiatan usaha, sumber dana, dan tujuan transaksi perlu dapat dijelaskan dan diverifikasi. Ketika sumber dana tidak jelas atau informasi yang diberikan tidak konsisten, hal tersebut dapat menjadi sinyal risiko yang perlu diperiksa lebih lanjut.
3. Struktur kepemilikan sulit ditelusuri
Untuk badan usaha, pemeriksaan tidak berhenti pada legalitas perusahaan. Struktur kepemilikan dan Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pihak yang sebenarnya memiliki atau mengendalikan perusahaan juga perlu diketahui. Struktur yang terlalu kompleks atau sulit dijelaskan dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
4. Aktivitas transaksi tidak sesuai profil
Bandingkan nilai, frekuensi, pihak yang terlibat, dan tujuan transaksi dengan profil nasabah serta kegiatan usahanya. Perubahan aktivitas yang tiba-tiba, transaksi dalam jumlah tidak biasa, atau pola yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya dapat menjadi indikasi yang perlu diperiksa.
5. Hasil screening menunjukkan faktor risiko
Screening membantu melihat apakah nasabah memiliki faktor risiko yang perlu diperhatikan. Hasil screening kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan tingkat risiko dan tindakan selanjutnya.
Satu indikasi belum tentu menunjukkan adanya pencucian uang. Namun, jika pola tersebut muncul berulang, perusahaan perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memahami risikonya.
Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia
Untuk memahami aktivitas pencucian uang lebih detail, berikut beberapa kasus di Indonesia yang menunjukkan bagaimana harta hasil tindakan pidana dapat digunakan, dialihkan, atau melibatkan pihak lain:
1. Tindak Pidana siber melalui pembobolan rekening
Contoh tindak pidana yang dapat berkaitan dengan pencucian uang adalah kejahatan siber. Salah satunya terlihat dalam kasus pembobolan rekening dormant bank BUMN senilailebih dari Rp204 miliar. Kasus ini terungkap setelah ditemukan transaksi mencurigakan pada rekening yang sebelumnya tidak aktif, tetapi tiba-tiba digunakan untuk transaksi dalam jumlah besar.
Dari hasil penyelidikan, dana yang berhasil dicairkan kemudian dipindahkan ke berbagai rekening penampung, lalu dialihkan ke investasi fiktif dan pembelian aset. PPATK juga menemukan penggunaan perusahaan cangkang dalam kasus tersebut.
2. Tindak pidana korupsi yang disamarkan lewat aset
Korupsi juga dapat menjadi tindak pidana asal yang berkaitan dengan pencucian uang. Salah satu contohnya adalah kasus mantan pejabat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan yang melibatkan penerimaan gratifikasi dalam jumlah besar. KPK kemudian menelusuri aset dan aliran dana yang berkaitan dengan perkara tersebut. Kemudian digunakan untuk membeli aset atau ditempatkan atas nama pihak lain, seperti keluarga atau orang terdekat.
3. Tindak pidana penipuan lewat investasi bodong
Kasus penipuan pun sangat sering ditemukan untuk pencucian uang. Misalnya, kasus investasi bodong di Surabaya, dua korban mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Kasus ini menunjukkan bagaimana dana hasil penipuan dapat mengalir melalui banyak rekening, sehingga asal-usulnya semakin sulit ditelusuri dan menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan.
4. Tindak pidana narkotika yang melibatkan anggota keluarga
Narkotika juga dapat menjadi salah satu tindak pidana asal dalam pencucian uang. Dalam kasus di Mataram, istri dan dua anak seorang bandar narkoba disidang dalam perkara TPPU yang berkaitan dengan harta hasil tindak pidana narkotika. Keterlibatan anggota keluarga atau pihak lain dalam penggunaan dan penguasaan harta dapat membuat penelusuran asal-usul harta menjadi lebih kompleks.
Baca juga: KYC vs eKYC: Regulasi dan Cara Kerja Verifikasi Digital
Bagaimana Mencegah Risiko Pencucian Uang?
Kasus pencucian uang menunjukkan bahwa risiko dapat muncul dari berbagai aktivitas dan pihak yang terlibat. Karena itu, perusahaan perlu memiliki sistem yang dapat membantu mencegah dan mengelola risiko tersebut secara end-to-end. Beberapa proses yang dapat dilakukan antara lain:
1. Watchlist Screening
Watchlist screening membantu memeriksa apakah nasabah memiliki profil yang perlu diperhatikan. Pemeriksaan dapat mencakup PEP, tindak pidana, serta daftar risiko lainnya. Hasil screening dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan apakah nasabah membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
2. eKYC
eKYC membantu memastikan bahwa identitas nasabah sesuai dengan data dan dokumen yang diberikan. Proses verifikasi dilakukan secara digital, sehingga perusahaan dapat mengenali nasabah dengan lebih cepat sebelum melanjutkan ke proses pemeriksaan berikutnya. Dengan identitas yang sudah terverifikasi, perusahaan memiliki dasar yang lebih jelas untuk melakukan screening dan penilaian risiko.
3. eKYB
Risiko tidak hanya berasal dari nasabah individu, tetapi juga dapat muncul dari badan usaha. Pemeriksaan badan usaha perlu mencakup legalitas, struktur kepemilikan, dan Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pihak yang sebenarnya memiliki atau mengendalikan perusahaan. eKYB membantu memeriksa struktur kepemilikan dan mengidentifikasi pihak yang berada di balik suatu badan usaha.
4. Risk Profiling berdasarkan Risk Based Approach
Risk Based Approach (RBA) adalah pendekatan yang menyesuaikan tingkat pemeriksaan dan pengawasan berdasarkan tingkat risiko. Risk profiling menjadi bagian dari penerapannya untuk menilai tingkat risiko nasabah, sehingga pemeriksaan dan pengawasan dapat disesuaikan dengan tingkat risikonya.
5. Transaction Monitoring
Transaction monitoring membantu perusahaan Anda dalam memantau aktivitas secara berkala dan mengidentifikasi transaksi yang menyimpang dari profil atau pola aktivitas nasabah.
6. Reporting
Temuan dari proses screening dan monitoring perlu ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Jika terdapat aktivitas yang memenuhi kriteria pelaporan, perusahaan perlu melakukan pelaporan kepada pihak yang berwenang sesuai kewajibannya. Pelaporan menjadi bagian penting dalam membantu mendeteksi dan mencegah risiko pencucian uang secara lebih luas.
Mulai dari siapa nasabahnya, apa risikonya, hingga bagaimana aktivitasnya, setiap tahap perlu diperiksa untuk membantu mencegah risiko pencucian uang.
Dengan SIJITU MAX, semua proses tersebut dapat didukung dalam satu ekosistem, mulai dari eKYC, eKYB, Comprehensive Screening, Risk Monitoring, Transaction Monitoring, hingga Reporting.
SIJITU pun telah melalui Regulatory Sandbox IKD OJK dan direkomendasikan sebagai Penyedia Jasa Teknologi Informasi melalui Surat No. S-13/D.07/2024.
Ingin memperkuat pencegahan risiko pencucian uang di perusahaan Anda secara end-to-end? Konsultasikan kebutuhan perusahaan Anda bersama tim SIJITU.
Komentar Terbaru